Tujuan dan Prinsip Pengembangan Sistem Diklat

Tujuan Pengembangan Sistem Diklat
Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) merupakan suatu proses pembelajaran dalam organisasi yang mengarah pada perubahan sikap dan perilaku pegawai agar memenuhi harapan kualifikasi kerja dan tuntutan perkembangan organisasi baik internal maupun eksternal. Diklat lebih difokuskan pada keterampilan yang mengearahkan peserta untuk meningkatkan kompetensinya. Dengan demikian, aktivitas praktik dalam diklat memiliki porsi yang lebih banyak dibandingkan dengan mempelajari teori.
Tujuan dan Prinsip Pengembangan Sistem Diklat
Pelaksanaan diklat.
Untuk menyelenggarakan diklat yang baik, diperlukan pengembangan sistem diklat yang baik pula. Tujuan dari pengembangan sistem diklat menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri RI No. 2 Tahun 2013 adalah untuk meningkatkan profesionalitas dan kompetensi penyelenggaraan pemerintahan. Oleh karena itu, biasanya penyelenggara diklat membentuk tim khusus untu mengembangkan sistem diklat.

Menurut Lembaga Administrasi Negara, adapun tugas-tugas dari tim pengembang sistem diklat antara lain:
a)      penyusunan kebijakan teknis di bidang pengembangan program dan pembinaan pendidikan dan pelatihan;
b)      penyusunan rencana kerja program, kegiatan, dan anggaran di bidang pengembangan program dan pembinaan pendidikan dan pelatihan;
c)      pelaksanaan koordinasi kegiatan di lingkungan Pusat;
d)      pengendalian pelaksanaan kegiatan di lingkungan Pusat;
e)      pelaksanaan pengembangan program pendidikan dan pelatihan prajabatan dan kepemimpinan;
f)       pelaksanaan pengembangan program pendidikan dan pelatihan teknis dan fungsional;
g)      pelaksanaan Akreditasi lembaga Diklat dan pengelolaan Sistem Informasi Diklat Aparatur (SIDA);
h)      pelaksanaan konsultasi, advokasi dan asistensi di bidang pengembangan program dan pembinaan pendidikan dan pelatihan;
i)        pelaksanaan pemberian dukungan teknis dan administratif kepada Pusat dan kelompok jabatan fungsional di lingkungan Pusat;
j)        pembinaan kelompok jabatan fungsional di lingkungan Pusat; dan
k)      pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan pimpinan.

Prinsip Pengembangan Sistem Diklat
Menurut Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi RI, pelatihan dilaksanakan dengan prinsip dasar dan kebijakan yang berorientasi pada kebutuhan dan pengembangan sumber daya manusia. Selain itu, pelatihan juga dilaksanakan dengan prinsip berbasis pada kompetensi kerja. Prinsip yang ketiga adalah dilaksanakan sebagai bagian integral dari pengembangan profesionalisme sepanjang hayat. Pelatihan harus dilaksanakan dengan berkeadilan dan tidak diskriminatif. Prinsip yang terakhir adalah dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab dari semua pihak.

Sistem diklat yang dikembangkan hendaknya mampu menjawab kebutuhan masyarakat dan dapat mengembangkan sumber daya manusia. Setiap orang menginginkan dirinya untuk terus berkembang. Dengan demikian, diklat yang diberikan haruslah mengacu pada kebutuhan masyarakat dan dapat meningkatkan potensi manusia yang bersangkutan.

Pengembangan sistem diklat juga harus berbasis pada kompetensi kerja. Hal ini diperlukan karena tujuan utama diklat adalah untuk meningkatkan kompetensi dan produktivitas tenaga kerja. Didtem diklat yang dikembangkan harus dapat secara nyata memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan kompetensi peserta diklat.

Jika kompetensi, kebutuhan masyarakat, dan pengembangan sumber daya manusia telah terpenuhi, maka pengembangan sistem diklat juga harus memenuhi prinsip pengembangan profesionalisme sepanjang hayat. Setiap manusia dituntut untuk senantiasa mengembangkan potensinya dan mengupgrade pengetahuannya sehingga dapat menjaga stabilitas profesionalitas dalam bekerja. Oleh karena itu, sistem diklat yang dikembangkan haruslah dapat menciptakan pola pikir tenaga kerja untuk senantiasa mengambangkan tingkat profesionalitasnya.

Pengembangan sistem diklat juga harus dilaksanakan dengan penuh integritas. Oleh karena itu sistem diklat tidak boleh mengandung diskriminasi. Setiap peserta diklat hendaknya diberikan kesempatan yang seimbang untuk dapat berpartisipasi dalam diklat sesuai dengan tugas pokok masing-masing. Dengan demikian, sistem diklat harus disusun dengan mengutamakan konsep berkeadilan.

Sebaik apapun sistem diklat yang dikembangkan, sistem tersebut tidak akan memberikan dampak baik tanpa adanya komitmen dari berbagai pihak yang bersangkutan untuk melaksanakannya dengan penuh tanggung jawab. Oleh karena itu, pengembangan sistem diklat juga harus memenuhi prinsip tanggung jawab. Penyelenggara diklat, peserta diklat, dan masyarakat yang bersangkutan hendaknya memberikan kontribusi disertai dengan rasa tanggung jawab yang besar untuk menjaga efektivitas dan efisiensi diklat.

Dengan memahami tujuan serta prinsip pengembangan program diklat ini, diharapkan setiap penyelenggara diklat, peserta diklat, dan masyarakat luas dapat merencanakan, melaksanakan, dan mengontrol serta mengevaluasi penyelenggaraan diklat.

Referensi:

Peraturan Menteri Dalam Negeri No. 2 Tahun 2013 Tentang Pedoman Pengembangan Sistem Pendidikan dan Pelatihan Berbasis Kompetensi Di Lingkungan Kementerian Dalam Negeri Dan Pemerintahan Daerah.


Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi Ri Direktorat Jenderal Pembinaan Pelatihan dan Produktivitas. Pedoman Penyelenggaraan Sistem Pelatihan Kerja Nasional Di Daerah.

googled27a9eb75e6cacee.html

googled27a9eb75e6cacee.html
googled27a9eb75e6cacee.html

Kesan Pemaksaan Kurikulum 2013


Kurikulum 2013 yang dicetuskan Menteri Pendidikan baru-baru ini menuai banyak tanggapan negatif dari berbagai kalangan. Betapa tidak, implementasi Kurikulum 2013 ini dinilai masih terlalu cepat. Sehingga banyak pihak yang masih merasa belum mampu beradaptasi dengan aturan-aturan baru yang termuat dalam kurikulum tersebut.

Kurikulum 2013
Implementasi Kurikulum 2013
Kementerian Pendidikan memang mencetuskan Kurikulum 2013 dengan harapan hal tersebut dapat mengubah paradigma mengajar para guru dan paradigma belajar peserta didik. Dengan mengimplementasikan Kurikulum 2013, peserta didik diharapkan mampu secara aktif dan efektif melaksanakan kegiatan belajar. Sisiwa menjadi lebih sering bertanya dan memberikan umpan balik terhadap pertanyaan yang diajukan oleh guru.
Namun, di sisi lain, penerapan Kurikulum 2013 ini dirasa sangat mendadak dan minim persiapan. Masih banyak sekolah yang belum siap menjalankan Kurikulum 2013, terutama sekolah yang ada di daerah-daerah. Hal ini dikemukakan oleh Sekjen Federasi Seikat Guru Indonesia (FSGI) kepada Lampung Post, "Alasan kami, jelas kurikulum 2013 ini masih ada cacatnya karena kurangnya kesiapan sekolah dan kualitas guru di berbagai daerah. Saya tahu sistem itu dipaksakan untuk dijalankan, sayangnya hasilnya tidak akan efektif."

Selain itu, kendala juga terjadi pada pendistribusian buku-buku yang nantinya menjadi panduan siswa dalam belajar. Buku-buku mata pelajaran belum didistribusikan secara merata. Hal ini tentu membuat kesulitan tersendiri bagi guru untuk mempersiapkan materi, metode, dan media pembelajaran.

Melihat kondisi yang terjadi di masyarakat, implementasiKurikulum 2013 perlu ditinjau ulang. Kesan terburu-buru tidak dapat dihindari karena nyata-nyata masih banyak sekolah yang tidak siap dan belum mendapatkan distribusi buku yang memadai. Oleh karena itu, pemerintah, khususnya Kementerian Pendidikan dan kebudayaan hendaknya perlu melakukan berbagai macam persiapan secara komprehensif sehingga dapat meminimalisir hal-hal yang membuat penerapan Kurikulum 2013 terhambat.

Review Singkat Buku: MULTIPLE INTELLIGENCES, MEMAKSIMALKAN POTENSI & KECERDASAN INDIVIDU DARI MASA KANAK-KANAK HINGGA DEWASA


Judul: MULTIPLE INTELLIGENCES, MEMAKSIMALKAN POTENSI & KECERDASAN INDIVIDU DARI MASA KANAK-KANAK HINGGA DEWASA.
Penulis: Howard Gardner
Penerbit: Daras Books
Tahun Terbit: 2013

Orang tua mana yang tidak ingin anaknya cerdas dan sukses? Orang tua mana yang tidak ingin sang anak punya bakat dan mahir dalam semua hal yang ditekuninya? Sejatinya, setiap individu, bila dibiarkan berkembang dengan benar dan tepat, punya potensi untuk mencapai beragam kesuksesan dalam hidup. Namun sayangnya, kebanyakan pola pendidikan yang ada sekarang tidak mampu mengakomodasi kebutuhan tiap individu untuk bertumbuh secara optimal. Kebanyakan pola pendidikan yang ada sekarang tidak cukup memberikan ruang bagi keunikan masing-masing individu.
Howard Gardner telah mengubah wajah pendidikan dengan konsepnya Multiple Intelligences. Ribuan pendidik, orang tua, dan peneliti di seluruh dunia telah mengambil manfaat dari praktik dan aplikasi teori Multiple Intelligences.

Dengan memahami dan mempraktikkan konsep Multiple Intelligences, kita bisa membantu anak-anak kita, dan bahkan diri kita sendiri, untuk memaksimalkan segenap potensi yang ada pada diri masing-masing sehingga mampu memenangi persaingan dunia modern yang semakin ketat.


Review Singkat Buku: EVALUASI PEMBELAJARAN, PRINSIP, TEKNIK, PROSEDUR.

Judul: EVALUASI PEMBELAJARAN, PRINSIP, TEKNIK, PROSEDUR.
Penulis: Zaenal Arifin
Penerbit: PT. Remaja Rosdakarya

Buku Evaluasi Pembelajaran
Salah satu komponen penting yang juga merupakan tugas profesional guru dalam pembelajaran adalah melaksanakan evaluasi pembelajaran. Istilah “evaluasi” sengaja digunakan oleh penulis untuk membedakannya dengan istilah “penilaian”. Alsannya, pembelajaran sebagai suatu sistem tidak hanya terdiri atas hasil belajar tetapi juga komponen-komponen penting lainnya, seperti guru, strategi, dan media. Namun, bukan berarti di dalam buku ini tidak digunakan istilah penilaian karena hal tersebut merupakan bagian tak terpisahkan dari evaluasi itu sendiri.

Sebagai bentuk akuntanbilitas guru dalam melaksanakan pembelajaran, maka setiap guru dan tenaga kependidikan lainnya harus memahami konsep, prinsip, teknik, dan prosedur evaluasi pembelajaran sehingga hasil evaluasi dapat memberikan kepuasan bagi berbagai pihak. Di lingkungan pendidikan formal, guru juga harus dapat menggunakan berbagai inovasi dan model penilaian yang diamanatkan oleh pemerintah melalui Kurikulum Berbasis Kompetensi tahun 2004, yaitu penilaian berbasis kelas (classroom-based assesment) dengan salah satu jenisnya adalah penilaian portofolio (portofolio assesment).

Hasil evaluasi pembelajaran selain untuk mengisi buku rapor peserta didik juga dapat dijadikan feedback bagi guru untuk melakukan refleksi pelaksanaan pembelajaran. Dengan demikian, setiap saat guru dapat meningkatkan kinerjanya sehingga secara bertahap tapi pasti mutu pendidikan dapat ditingkatkan.



CARA MUDAH MEMBUAT JUDUL PENELITIAN, SKRIPSI, ATAU TESIS

Hallo Sobat Pembaca, salam hangat.


Sobat Pembaca sedang mau membuat penelitian, skripsi, atau mungkin tesis? Pusing memikirkan judul apa yang cocok? Wah tepat sekali kalau begitu. Pada kesempatan kali ini, saya akan membahas mengenai bagaimana cara membuat judul penelitian, skripsi, atau tesis.

Sebenarnya, judul penelitian, skripsi, atau tesis itu memiliki komponen yang disebut sebagai variabel. Variabel terbagi menjadi dua yaitu variabel bebas dan veriabel terikat. Nah yang menjadi masalah adalah bagaimana kemudian kita mencari variabel bebas dan terikat untuk dijadikan judul penelitian, skripsi, atau tesis?

CARA MUDAH MEMBUAT JUDUL PENELITIAN, SKRIPSI, ATAU TESIS
Tips membuat judul penelitian, skripsi, dan tesis.
Cara yang paling mudah sebenarnya adalah melihat fenomena yang terjadi di sekitar kita. Tentu fenomena tersebut harus berkaitan dengan hal yang ingin kita teliti. Bagi Sobat Pembaca yang sedang membuat skripsi atau tesis, hendaknya fenomena yang terjadi disesuaikan dengan jurusan pendidikan di bangku kuliah yang sedang ditempuh.

Dengan mengamati fenomena yang terjadi di sekitar kita secara detail, maka kita akan mampu menemukan masaah-masalah. Kumpulan masalah itulah yang bermanfaat untuk membuat judul penelitian atau skripsi dan tesis kita nantinya. Ingat, penelitian atau penulisan skripsi dan tesis adalah untuk menyelesaikan suatu masalah secara ilmiah.

Setelah terkumpul berbagai macam masalah, selanjutnya Sobat Pembaca perlu menganalisis masalah yang terjadi sesuai dengan bidang penelitian kita. Jika selesai memilih masalah, maka Sobat Pembaca hendaknya menganalisis masalah itu mengenai penyebab permasalahan terjadi, waktu terjadinya masalah, lokasi masalah ditemukan, dan apakah telah ada langkah-langkah penanggulangan masalah yang terjadi.

Setelah itu, hasil analisis bisa digunakan sebagai variabel bebas dalam membuat judul. Sedangkan masalahnya sendiri bisa digunakan sebagai variabel terikat. Saya akan memberikan sedikit ilustrasi mengenai hal ini. Misalnya masalah yang ditemukan adalah mobil mogok. Setelah dianalisis, penyebab mobil mogok bisa jadi karena masalah mesin mobil, masalah accu mobil, mogok ketika banjir, mogok karena kehabisan bahan bakar, dan lain-lain. Dari hasil analisis tersebut, kita bisa mengambil beberapa hal untuk djadikan variabel bebas dan kemudian menjadikan masalahnya sendiri sebagai variabel terikat. Agar lebih jelas, perhatikan gambar berikut:


CARA MUDAH MEMBUAT JUDUL PENELITIAN, SKRIPSI, ATAU TESIS
Masalah dan berbagai analisisnya
Judul penetilian yang saya buat dari hasil analisis tersebut misalnya: "PENGARUH KONDISI MESIN MOBIL DAN BANJIR TERHADAP PERFORMA LAJU KENDARAAN BERMOTOR." Dari judul tersebut, dapat diketahui bahwa kondisi mesin dan banjir adalah variabel bebas. Sedangkan performa laju kendaraan bermotor adalah variabel terikat. Judul tersebut menggambarkan hubungan sebab akibat antara variabel bebas dan terikat.

Itulah Sobat Pembaca, tips cara mudah membuat judul penelitian, skripsi, atau tesis yang bisa saya berikan. Semoga bermanfaat bagi Sobat Pembaca sekalian. Selamat berkarya.

TIPS MEMBUAT RUMUSAN MASALAH

Hai Sobat Pembaca, semoga selalu dalam keadaan yang sehat.

Pada kesempatan yang lalu, saya sempat membahas bagaimana cara membuat latar belakang dalam karya tulis ilmiah. Sekarang saya ingin berbagi tentang cara membuat rumusan masalah yang baik dan benar. Rumusan masalah sangat penting untuk memberikan pedoman tentang hal-hal apa saja yang akan kita bahas dalam tulisan ilmiah kita.
Rumusan masalah pada umumnya berbentuk pertanyaan. Menurut Budiharso (2009), rumusan masalah merupakan pertanyaan secara tersurat yang kemudian akan dicarikan jawabannya. Oleh karena itu, rumusan masalah selalu ditulis dengan kata tanya. Kata tanya yang dapat digunakan adalah what, who, when, where, why, dan how. Namun demikian, kata tanya juga bisa dalam bentuk yang lain tanpa harus menggunakan 5W+H seperti yang saya sebutkan.

Rumusan masalah yang baik hendaknya mencerminkan setidaknya dua hal berikut ini:

Disusun secara ringkas
TIPS MEMBUAT RUMUSAN MASALAH
Membuat rumusan masalah yang baik.
Rumusan masalah yang baik hendaknya disusun dalam kalimat tanya yang ringkas. Maksudnya, akan lebih baik dalam satu kalimat tanya hanya mengandung satu pertanyaan. Kalimat tersebut disusun bukan dalam bentuk kalimat bertingkat.

Mencerminkan variabel yang diteliti
Sobat pembaca harus ingat bahwa rumusan masalah bertujuan untuk memberi gambaran tentang hal-hal apa yang akan dibahas pada bab-bab selanjutnya. Oleh karena itu, variabel penelitian yang tercermin di dalam judul juga harus dicantumkan dalam rumusan masalah. Hal-hal yang berkaitan dengan variabel tersebut tidak hanya terbatas pada definisinya saja, tetapi juga bisa mengenai sifat variabel yang diteliti, bahkan hubungan antar-variabel.

Jika Sobat Pembaca dapat menampilkan kedua hal tersebut dalam rumusan masalah, tentu hal itu akan memudahkan penulisan bab-bab pembahasan selanjutnya.

Untuk jenis-jenis pertanyaan dalam rumusan masalah bisa dikelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu pertanyaan deskripstif, komparatif, dan asosiatif. Ketiganya dijelaskan sebagai berikut:

Pertanyaan deskriptif adalah pertanyaan yang bertujuan untuk menjelaskan satu variabel secara mandiri. Biasanya pertanyaan jenis ini adalah pertanyaan mengenai pengertian suatu variabel. Contohnya: Apakah yang dimaksud dengan belajar? Pertanyaan semacam itu adalah untuk menggambarkan keadaan seperti bagaimanakah yang disebut sebagai belajar.

Pertanyaan komparatif adalah pertanyaan yang bertujuan untuk membandingkan satu variabel dengan variabel yang lainnya. Biasanya perbandingan ini bisa antar-variabel maupaun variabel yang sama namun sudut pandang berbeda. Contoh: Bagaimanakah pengaruh belajar yang dilakukan pada pagi hari dengan yang dilakukan pada malam hari? Pertanyaan tersebut mengarahkan pada komparasi satu variabel tetapi dilakukan pada waktu yang berbeda.

Pertanyaan asosiatif adalah pertanyaan yang bertujuan untuk menggali hubungan antara variabel yang satu dengan variabel yang lainnya. Hubungan yang terbentuk bisa bersifat sebab akibat, simetris, maupun hubungan interaktif. Contoh: Bagaimanakah hubungan antara pengaturan waktu belajar dengan lingkungan belajar terhadap peningkatan prestasi anak di sekolah?

Demikianlah penjelasan ringkas mengenai tips membuat rumusan masalah dalam penulisan karya ilmiah. Semoga dapat bermanfaat bagi sobat pembaca sekalian. Selamat berkarya.

Referensi
Budiharso, Teguh. 2009. Panduan Lengkap Penulisan Karya Ilmiah Skripsi,Tesis, dan Disertasi. Yogyakarta: Venus.

BAGAIMANA CARA MEMBUAT LATAR BELAKANG MASALAH YANG BAIK DAN BENAR?

Halo Sobat Pembaca,


Kita semua tahu bahwa setiap penulisan karya tulis ilmiah selalu melibatkan bagian latar belakang masalah. Namun demikian, masih banyak di antara para penulis pemula yang masih bingung tentang bagaimana cara menulis latar belakang masalah yang baik dan benar. Tapi tenang, Sobat Pembaca tidak perlu khawatir, karena pada kesempatan kali ini, saya akan sharing tentang bagaimana cara membuat latar belakang masalah yang baik dan benar.

BAGAIMANA CARA MEMBUAT LATAR BELAKANG MASALAH YANG BAIK DAN BENAR?
Bingung cara membuat latar belakang yang baik?
Biasanya latar belakang masalah terletak pada Bab I Pendahuluan suatu karya tulis ilmiah. Secara umum, latar belakang masalah adalah bagian tulisan yang mengemukakan berbagai macam alasan mengapa suatu penelitian harus dilakuan. Dari latar belakang masalah ini, pembaca diharapkan mampu mengerti secara garis besar hal apa yang mendasari penulisan laporan penelitian yang dibuat oleh penulis.

Dengan mengetahui alasan-alasan yang melatar-belakangi suatu permasalahan, maka penulis dan pembaca dapat menentukan seberasa besar tingkat ketermendesakan (urgensi) untuk menyelesaikan permasalahan tersebut. Oleh karena itu, alasan-alasan tersebut harus dikemukakan dengan detail dan spesifik. Hal ini penting dilakukan karena akan menentukan apakah penelitian yang dilakukan itu benar-benar penting atau tidak.

Untuk membuat latar belakang yang baik dan benar, terdapat beberapa komponen yang harus dicantumkan. Komponen-komponen itu meliputi:

Gambaran umum masalah
Pada bagian awal latar belakang masalah, perlu dikemukakan gambaran permasalah yang akan diangkat sebagai tema penulisan. Hal ini penting untuk memberikan pengetahuan awal dalam bentuk informasi bahwa ada "masalah" yang harus diselesaikan. Ingat, setiap penelitian selalu berangkat dari permasalahan yang terjadi.

Bentuk masalah yang diangkat bisa bermacam-macam. Masalah bisa berupa keadaan yang menyimpang dari hal yang seharusnya. Selain itu, masalah juga mungkin timbul karena adanya penerapan kebijakan baru yang bertolak belakang dengan sikap lama yang telah terbentuk sebelumnya. Sobat Pembaca dapat mengamati lingkungan sekitar dengan detail untuk menemukan masalah yang hendak diteliti.

Kondisi ideal yang diharapkan
Jika gambaran umum mengenai masalah telah dibuat, bagian selanjutnya adalah dengan mencantumkan kondisi-kondisi ideal yang diharapkan. Kondisi ideal ini merupakan keadaan yang bertolak belakang dengan masalah yang terjadi. Di sini sudah mulai tampak ada kesenjangan atau kontradiksi antara permasalahan yang terjadi dengan keinginan atau harapan.

Sebab-sebab permasalahan
Selanjutnya, agar lebih meyakinkan pembaca, seorang penulis perlu mengidentifikasi sebab-sebab permasalahan. Setelah sebab-sebab permasalahan ditemukan, penulis perlu memberikan bukti berupa fakta yang terjadi untuk mendukung permasalahan yang akan diangkat. Penulis dapat memperolehnya dari berbagai sumber bacaan. Misalnya melalui surat kabar, siaran berita, atau melalui pernyataan para ahli yang menjelaskan ada permasalahan yang harus diselesaikan. Dengan adanya bukti berupa fakta tersebut, pembaca akan lebih yakin bahwa masalah yang penulis angkat itu benar-benar nyata.

Tingkat kerumitan atau kompleksitas masalah dan dampaknya jika dibiarkan
Penulis juga perlu menggambarkan tingkat kerumitan masalah. Pada bagian ini, penulis harus mampu menggambarkan bahwa masalah yang terjadi bukanlah hal yang sederhana. Jika penulis berhasil menunjukkan tingkat kompleksitas masalah, hal itu akan menjadi bahan penilaian bahwa masalah yang kompleks tersebut perlu diselesaikan melalui cara yang ilmiah.

Setelah itu, penulis juga harus menunjukkan bahwa masalah tersebut akan memberikan pengaruh atau dampak yang membahayakan jika tidak segera diselesaikan. Sebisa mungkin penulis mengemukakan berbagai hal yang memungkinkan menjadi dampak negatif dari permasalahan jika tidak diselesaikan. Dengan begitu, tingkat urgensi penyelesaian masalah akan meningkat.

Cara untuk menyelesaikan masalah
Setelah menggambarkan tingkat urgensi permasalahan, kini tiba saatnya seorang penulis mengemukakan alternatif pemecahan atau penyelesaian masalah. Di sinilah letak penting variabel penelitian untuk menyelesaikan masalah. Biasanya cara untuk menyelesaikan masalah ini berkaitan dengan judul penelitian.

Penjelasan singkat mengenai permasalahan yang akan diteliti sesuai dengan ruang lingkup atau bidang peneliti
Lagkah selanjutnya, semua hal yang telah dibahas sebelumnya, perlu dibuat kristalisasi. Penulis perlu memberikan penjelasan singkat mengenai masalah-masalah yang sudah dibahas sebelumnya dan mengkristalisasikannya sesuai dengan ruang lingkup dan bidang peneliti. Tujuannya agar pembaca dapat mengetahui fokus penelitian yang dilakukan peneliti.

Jika dicermati, langkah-langkah yang saya kemukakan di atas adalah langkah pembuatan latar belakang dengan metode piramida terbalik. Berangkat dari permasalahan yang umum kemudian sedikit demi sedikit disusun secara mendetail dan terfokus. Dengan mengikuti gaya ini, biasanya pembaca akan lebih mudah memahami apa yang akan penulis bahas dalam bab-bab selanjutnya.

Okay, demikian tips cara membuat latar belakang masalah yang baik dan benar yang saya rangkum dari pengalaman dan hasil membaca saya. Semoga dapat menambah wawasan Sobat Pembaca yang mungkin masih bingung mengenai cara membuat latar belakang masalah yang baik. Semoga posting saya dapat bermanfaat. Selamat berkarya.

BAGAIMANA CARA MEMBUAT PARAGRAF YANG BAIK?

Hai Sobat Pembaca,

Pada kesempatan kali ini, saya ingin membahas mengenai salah satu unsur dari suatu karya tulis, yaitu paragraf. Mungkin kita semua tahu apa itu paragraf. Tetapi untuk membuat paragraf yang baik, kadang kita masih mengalami kesulitan. Oleh karena itu sedikit sharing saya kali ini, diharapkan dapat memberikan penjelasan yang lebih mudah dipahami tentang bagaimana cara membuat paragraf yang baik.

Pertama-tama, kita harus mengetahui apa itu paragraf. Dalam semua karya tulis, ide-ide yang disampaikan kepada pembaca tentu disusun dalam bentuk kumpulan paragraf. Secara umum, paragraf diartikan sebagai sekelompok kalimat yang saling berkaitan untuk mengembangkan satu ide pokok. Namun demikian, jumlah kalimat dalam satu paragraf bukan hal yang utama.
Beberapa hal yang dapat dijadikan patokan dalam membuat paragraf yang baik adalah:

Satu Ide Pokok dalam Satu Paragraf
BAGAIMANA CARA MEMBUAT PARAGRAF YANG BAIK?
Paragraf yang baik dalam karya tulis
Paragraf yang baik hendaknya hanya memiliki satu ide pokok. Ide pokok tersebut biasanya dicantumkan dalam kalimat pertama dari suatu paragraf. Ide pokok inilah yang kemudian perlu dikembangkan atau dijelaskan dengan menggunakan kalimat penjelas. Untuk menghindari kebingungan, kalimat yang berisi ide pokok disebut sebagai kalimat topik. Sedangkan kalimat yang menjelaskan kalimat topik disebut sebagai kalimat penjelas.

Jumlah Kalimat dalam Satu Paragraf
Memang pada awal tulisan saya tadi, saya mengatakan bahwa jumlah kalimat dalam satu paragraf bukanlah hal yang utama. Tetapi, perlu diingat bahwa kalimat topik perlu didukung oleh kalimat penjelas. Sejauh mana batasannya? Batasannya adalah sejauh kalimat penjelas itu mampu mendukung kalimat topik.

Untuk menulis karya tulis ilmiah, pada umumnya satu paragraf paling tidak harus terdiri dari tiga kalimat. Jumlah minimal ini bisa diterjemahkan bahwa kalimat pertama adalah ide pokok atau bagian pembuka. Kalimat kedua dan ketiga adalah untuk menjelaskan dan menyimpulkan kalimat topik tersebut.

Unsur-unsur Penunjang Paragraf
Selain kalimat topik dan kalimat penjelas, paragraf yang baik biasanya memiliki unsur penunjang lainnya. Misalnya keutuhan dari paragraf dan keruntutan paragraf. Kedua hal ini harus dicermati agar ketika membuat karya tulis, Sobat Pembaca dapat membuat alur yang mengalir.

Keutuhan satu paragraf, dapat dicapai dengan syarat dalam satu paragraf tersebut hanya memiliki satu ide pokok. Ide pokok tersebut didukung oleh kalimat penjelas. Dengan demikian kalimat penjelas yang dapat digunakan adalah dengan memberikan penjelasan, contoh-contoh, atau ilustrasi yang lebih rinci dari ide pokok tersebut.

Keruntutan suatu paragraf diperlukan untuk membuat karya tulis menjadi enak dibaca. Oleh karena itu, penulis perlu menyusun kalimat pendukung dalam urutan yang logis. Kemudian penulis harus menghubungkan ide yang terdapat dalam satu paragraf dengan kata-kata transisi.

Singkatnya, paragraf yang baik adalah paragraf yang terdiri dari satu kalimat topik, kalimat penjelas, dan kalimat penyimpul. Selain itu diperlukan unsur tambahan agar paragraf tersebut menjadi sempurna, yaitu adanya keutuhan dan keruntutan kalimat dalam paragraf. Dengan demikian, kelima unsur tersebut perlu dicantumkan dalam paragraf agar paragraf tersebut menjadi paragraf yang sempurna.

Demikian sedikit sharing saya tentang cara membuat paragraf yang baik. Semoga bermanfaat bagi Sobat Pembaca. Selamat berkarya.

BAGAIMANA CARA MEMBUAT KALIMAT TOPIK YANG BAIK?

Hai Sobat Pembaca,


Kemarin saya sempat posting tentang cara membuat paragraf yang baik. Salah satu unsur yang harus terpenuhi sehingga paragraf disebut sebagai paragraf yang sempurna adalah karena adanya kalimat topik. Kalimat topik adalah kalimat yang berisi satu ide pokok dalam paragraf tersebut.

Menyambung posting saya yang sebelumnya, pada kesempatan kali ini saya akan memberikan tips untuk membuat kalimat topik yang baik. Jika Sobat pembaca mampu membuat kalimat topik yang baik, diharapkan paragraf yang Sobat kembangkan dapat dipahami dengan mudah oleh pembaca. Jika sudah demikian, pembaca akan bisa fokus dalam membaca tulisan Anda.
Menulis kalimat topik yang baik
Menulis kalimat topik yang baik
Kalimat topik merupakan unsur yang paling penting dalam paragraf. Fungsi dari kalimat topik adalah untuk menunjukkan secara singkat perihal yang akan dibahas dalam satu paragraf tersebut. Kalimat topik inilah yang harus dijadikan pedoman untuk membuat kalimat penjelas. Dengan demikian, kalimat penjelas tidak akan melenceng dari ide yang ingin dikemukakan. Secara khusus, pembaca akan dapat mempersiapkan diri untuk memahami isi paragraf melalui kalimat topik.

Menyadari kedudukan kalimat topik yang sangat penting, terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan ketika Sobat ingin membuatnya. hal-hal tersebut akan diuraikan sebagai berikut:

Gunakan Kalimat Lengkap untuk Membuat Kalimat Topik
Unsur-unsur kalimat dalam kalimat topik hendaknya dibuat secara lengkap. Setidaknya dalam kalimat topik harus ada subjek, predikat, dan pelengkap (objek, pelengkap, atau kata keterangan). lengkapnya unsur-unsur kalimat dalam kalimat topik akan membuat kalimat topik mudah dipahami.

Kalimat Topik Jangan Terlalu Luas dan Jangan Terlalu Sempit
Inilah seni untuk membuat kalimat topik. Kalimat topik yang baik, ia harus ada batasan tertentu sehingga cakupannya tidak terlalu luas. Namun juga tidak boleh terlalu dibatasi yang menyebabkan kalimat tersebut memiliki cakupan yang sempit. Kalimat topik yang terlalu luas menyebabkan ide pengendali menjadi tidak jelas. Sedangkan kalimat topik yang terlalu rinci menyebabkan penulis mengalami kesulitan dalam mengembangkannya.

Contoh kalimat topik yang terlalu luas:
- Pentingnya emas.
- Lukisan yang bagus.

Kalimat topik di atas seharusnya dibuat dengan melengkapi unsur-unsur kalimat. Perubahan contoh kalimat topik di atas bisa saja diganti sebagai berikut:
- Emas adalah jenis logam yang memiliki harga tinggi.
- Lukisan yang dibuat oleh Leonardo da Vinci memiliki nilai estetika yang tinggi.

Contoh kalimat topik yang terlalu rinci:
- Kurikulum berasal dari bahasa Yunani, yaitu "curere" yang artinya lari atau sesuatu yang 
  harus ditempuh dalam beberapa tahapan.

Kalimat topik yang baik hendaknya ditulis dengan unsur yang lengkap. Unsur minimal yang harus ada dalam kalimat topik adalah subjek, predikat, dan pelngekap. Selain itu, kalimat topik hendaknya disusun dalam kalimat yang tidak terlalu luas dan tidak terlalu rinci.

Demikianlah Sobat Pembaca, sharing saya tentang cara membuat kalimat topik yang baik. Semoga bermanfaat. Selamat berkarya.

IMPLIKASI FILSAFAT KONSTRUKTIVISME TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR

Konstruktivisme adalah salah satu aliran filsafat yang memiliki pengaruh besar dalam bidang kehidupan manusia. Pengaruh filsafat konstruktivisme yang memiliki dampak besar salah satunya adalah dalam bidang pendidikan dan pengetahuan. Filsafat konstruktivisme ini memandang bahwa pengetahuan merupakan hasil konstruksi dari pengetahuan manusia.[1] Hal inilah yang kemudian menjadi pembeda aliran filsafat konstruktivisme dengan aliran-aliran filsafat yang lainnya.
IMPLIKASI FILSAFAT KONSTRUKTIVISME TERHADAP PROSES BELAJAR MENGAJAR
Konstruktivisme dalam pendidikan

Salah satu tokoh pendidikan yang menggunakan filsafat konstruktivisme adalah Jean Piaget. Salah satu sumbangsih dari tokoh pendidikan ini adalah teori konstruktivisme Piaget. Secara singkat, teori tersebut menyatakan bahwa pengetahuan yang merupakan hasil konstruksi manusia itu sendiri harus melibatkan keaktifan manusia itu sendiri. Secara ekstrim Piaget menyatakan bahwa pengetahuan tidak dapat ditranfer dari otak guru yang dianggap tahu kepada siswa, tanpa melibatkan konstruksi pengetahuan yang dilakukan oleh siswa sendiri.[2]

Bidang pendidikan merupakan sarana yang memiliki peran penting dalam pengembangan pengetahuan. Proses pengembangan pengetahuan tersebut dilakukan dalam proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar adalah segala aktivitas yang dilakukan oleh guru dan siswa dengan melibatkan materi ajar, sumber belajar, proses komunikasi, metode pengajaran, dan evaluasi pembelajaran. Dengan demikian, jika guru dan siswa dapat melaksanakan proses belajar mengajar yang baik, maka pengetahuan dapat diharapkan berkembang secara optimal.

Perkembangan konstruktivisme dalam bidang pendidikan tentu memberikan berbagai macam implikasi dalam proses belajar mengajar. Pengaruh-pengaruh tersebut terjadi baik dalam pengertian proses belajar mengajar, penyusunan bahan materi ajar, proses komunikasi dalam pengajaran, metode pengajaran, dan proses evaluasi pembelajaran. Secara umum, filsafat konstruktivisme memberikan implikasi yang jauh berbeda dengan pengaruh yang diberikan oleh aliran filsafat-filsafat lainnya.

Konstruktivisme juga mempengaruhi perubahan strategi belajar mengajar yang dilakukan dalam bidang pendidikan. Strategi belajar mengajar merupakan pola umum kegiatan guru dan siswa yang diwujudkan dalam kegiatan belajar mengajar.[3] Dengan demikian, strategi belajar mengajar adalah gambaran mengenai aktivitas yang akan dilakukan oleh guru dan siswa dalam kegiatan belajar mengajar yang sesungguhnya. Sebelum konstruktivisme  berkembang, strategi pembelajaran biasanya berpusat pada guru (teacher center learning). Namun, ketika konstruktivisme berkembang, terjadi perubahan strategi pembelajaran menjadi berpusat pada siswa (student center learning).

Filsafat konstruktivisme meyakini bahwa proses pembentukan pengetahuan merupakan hasil bentukan atau konstruksi siswa itu sendiri. Hal tersebut memberikan implikasi terhadap pemaknaan proses belajar mengajar. Proses belajar mengajar lebih dipandang sebagai sarana memfasilitasi siswa dalam membentuk pengetahuan yang dimilikinya. Dengan demikian, proses belajar mengajar bukanlah proses transfer ilmu dari guru kepada siswa.

Para penganut filsafat konstruktivisme menganggap pengetahuan bukanlah hal yang tetap. Ilmu pengetahuan selalu berubah mengikuti perkembangan zaman. Oleh karena itu dalam menyusun materi ajar, guru hendaknya memperhatikan kebutuhan siswa dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan psikologis siswa tersebut.

Proses belajar mengajar bukanlah proses transfer pengetahuan yang dimiliki guru kepada siswa. Hal ini memberikan pengaruh langsung terhadap proses komunikasi yang dilakukan dalam kegiatan belajar mengajar. Komunikasi yang terjalin dalam proses belajar mengajar harus dilaksanakan dengan komunikasi banyak arah. Dengan demikian proses komunikasi tidak hanya dari guru kepada siswa, tetapi juga dari siswa kepada guru dan antara siswa yang satu dengan siswa yang lainnya.

Pengaruh nyata yang dipengaruhi oleh perkembangan konstruktivisme dalam pendidikan salah satunya terjadi dalam metode pembelajaran. Pada masa lampau biasanya metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru adalah metode ceramah. Namun seiring perkembangan konstruktivisme dalam pendidikan, metode pembelajaran yang dilakukan oleh guru juga semakin bervariasi. Para guru yang menerapkan konstruktivisme dalam proses belajar mengajar biasanya menggabungkan antyara metode ceramah, diskusi, tanya jawab, demonstrasi, role playing, dan karya wisata.

Konstruktivisme menekankan bahwa pengetahuan adalah hasil konstruksi individu dari berbagai macam pengetahuan awal yang dimiliki sebelumnya. Dengan demikian konstruktivisme tidak semata-mata berorientasi pada hasil pembelajaran, tetapi juga pada proses pembelajaran. Implikasinya, evaluasi pembelajaran juga harus melibatkan proses pembentukan pengetahuan. Dengan demikian, guru harus membuat rubrik penilaian yang cukup banyak untuk mengukur proses pembentukan pengetahuan siswa.

Dari pembahasan di atas, konstruktivisme memberikan implikasi yang besar dalam bidang pendidikan. Perubahan pemaknaan terhadap pengetahuan yang sebelumnya merupakan hasil transfer ilmu dari para ahli atau guru kepada peserta didik menjadi hasil konstruksi peserta didik sendiri, menyebabkan perlunya sikap aktif siswa dalam proses belajar mengajar. Tanpa didukung oleh keaktifan siswa, proses belajar mengajar menjadi kurang bermakna. Dengan demikian, guru harus bertindak sebagai fasilitator yang membantu siswa dalam mengkonstruksi pengetahuannya.




[1] Dr. Paul Suparno. Filsafat Konstruktivisme Dalam Pendidikan. (Yogyakarta: Kanisius, 1997), Hal. 28.
[2] Dr. Paul Suparno. Teori Perkembangan Kognitif Jean Piaget. (Yogyakarta: Kanisius, 200) Hal. 123.
[3] Drs. J.J. Hasibuan, Dip. Ed. dan Drs. Moedjiono. Proses Belajar Mengajar. (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2010). Hal. 3.

KURIKULUM IPA SD

KURIKULUM IPA SD
Pengertian Kurikulum

Dalam setiap jenjang pendidikan formal, kurikulum memiliki kedudukan yang penting. Kurikulum biasanya dijadikan patokan atau pedoman untuk mengarahkan segala aktivitas pendidikan demi tercapainya tujuan pendidikan. Secara umum, kurikulum berasal dari bahasa Yunani, “curere” yang berarti berlari. Arti lainnya adalah jarak yang harus ditempuh.

Dalam dunia pendidikan, kurikulum memiliki pengertian sebagai suatu rencana pendidikan yang memberikan pedoman dan pegangan tentang jenis, lingkup, dan urutan isi, serta proses pendidikan. Konsep kurikulum ini kemudian semakin berkembang seiiring berjalannya waktu. Oleh karena itu kurikulum senantiasa diperbarui.

Terdapat dua macam pandangan mengenai kurikulum. Pandangan pertama menyatakan bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran yang harus ditempuh siswa untuk memperoleh ijazah. Pandangan pertama ini disebut sebagai pandangan lama atau konvensional karena sifatnya yang terlalu sempit.

Pandangan yang kedua adalah pandangan modern. Menurut pandangan modern, kurikulum merupakan dokumen atau rencana tertulis mengenai kualitas pendidikan yang harus dimiliki siswa melalui pengalaman belajar. Pandangan ini membuat konteks kurikulum memiliki cakupan yang luas dan memungkinkan untuk senantiasa berkembang.

Dari keseluruhan pembahasan di atas, dapat diketahui bahwa kurikulum pendidikan merupakan seperangkat rencana tertulis dan pengaturan pendidikan. Kurikulum terdiri dari tujuan, isi, dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran. Kurikulum dirancang khusus untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan.

Ruang Lingkup Kurikulum IPA SD

Pendidikan IPA SD tentu juga tidak lepas dari kurikulum. Adapun latar belakang dibutuhkannya kurikulum pendidikan IPA SD adalah pendidikan IPA diharapkan menjadi wahana bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar. Dengan demikian, akan selalu ada hubungan dengan prospek pengembangan lebih lanjut dala menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari.

IPA diperlukan dalam kehidupan sehari-hari untuk memenuhi kebutuhan manusia melalui pemecahan masalah-masalah yang dapat diidentifikasikan. Pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secara inkuiri ilmiah (scientific inquiry) untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah serta mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup.

Pada saat penerapan KTSP, Standar Kompetensi (SK) dan Kompetensi Dasar (KD) IPA di SD/MI merupakan standar minimum yang secara nasional harus dicapai oleh peserta didik dan menjadi acuan dalam pengembangan kurikulum di setiap satuan pendidikan. Untuk kurikulum 2013, Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti adalah acuan utama bagi pembelajaran.

Adapun ruang lingkup dalam pendidikan IPA SD mencakup empat hal. Empat hal itu adalah makhluk hidup dan proses kehidupan; benda serta sifat dan kegunaannya; energi dan perubahannya; dan Bumi serta alam semesta.

Ruang lingkup makhluk hidup dan proses kehidupan mempelajari materi yang berhubungan dengan manusia, hewan, tumbuhan, serta interaksi ketiganya, dan juga hubungannya dengan kesehatan. Sedangkan ruang lingkup benda materi serta sifat dan kegunaannya berisi tentang benda padat, cair, dan gas.  Ruang lingkup energi dan perubahannya berisi tentang gaya, bunyi, panas, magnet, listrik, cahaya dan pesawat sederhana. Terakhir, ruang lingkup Bumi dan alam semesta berisi materi tentang tanah, bumi, tata surya, dan benda-benda langit lainnya.

Kerangka dasar dan struktur kurikulum IPA SD

Kerangka dasar kurikulum IPA SD terdiri dari tiga hal, yaitu kelompok mata pelajaran, prinsip pengembangan kurikulum, dan prinsip pelaksanaan kurikulum. Kelompok mata pelajaran ilmu pengetahuan dan teknologi pada SD/MI/SDLB dimaksudkan untuk mengenal, menyikapi, dan mengapresiasi ilmu pengetahuan dan teknologi, serta menanamkan kebiasaan berpikir dan berperilaku ilmiah yang kritis, kreatif dan mandiri.

Kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) jenjang pendidikan dasar dan menengah dikembangkan oleh sekolah dan komite sekolah berpedoman pada standar kompetensi lulusan dan standar isi serta panduan penyusunan kurikulum yang dibuat oleh BSNP. Sedangkan untuk kurikulum 2013 kurikulum dikembangkan oleh pemerintah dengan memberikan patokan kompetensi dasar dan kompetensi inti yang kemudian harus dikembangkan secara integratif dengan pengetahuan yang lainnya.

Terdapat tujuh hal yang menjadi prinsip pengembangan kurikulum, yaitu:
1.      Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungannya.
2.      Beragam dan terpadu.
3.      Tanggap terhadap perkembangan IPTEK dan seni.
4.      Relevan dengan kebutuhan kehidupan.
5.      Menyeluruh dan berkesinambungan.
6.      Belajar sepanjang hayat.
7.      Seimbang antara kepentingan nasional dan kepentingan daerah

Kurikulum tidak hanya perlu dikembangakan, tetapi juga harus dilaksanakan. Adapun prinsip pelaksanaan kurikulum adalah:
1.      Didasarkan pada potensi, perkembangan, dan kondisi peserta didik untuk menguasai kompetensi yang berguna bagi dirinya.
2.      Menegakkan lima pilar belajar, yaitu belajar untuk bertakwa kepada Tuhan YME.; memahami dan menghayati; melaksanakan dan berbuat secara efektif; hidup bersama dan berguna bagi orang lain; membangun dan menemukan jatidiri melalui proses PAIKEM.
3.      Memungkinkan peserta didik mendapat layanan perbaikan dan pengayaan.
4.      Hubungan peserta didik dan pendidik yang saling menerima dan menghargai.
5.      Menggunakan pendekatan multisinergi, multimedia, sumber belajar dan teknologi yang memadai, dan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sumber belajar.
6.      Mendayagunakan kondisi alam, sosial, dan budaya.
7.      Mencakup seluruh komponen kompetensi mata pelajaran, muatan lokal, dan pengembangan diri.

Setiap kurikulum pendidikan memiliki struktur tersendiri. Definisi struktur kurikulum adalah pola dan susunan mata pelajaran yang harus ditempuh oleh peserta didik dalam kegiatan pembelajaran. Dalam KTSP kedalaman muatan kurikulum dituangkan dalamàkompetensi. Kompetensi terdiri dari 2 macam, yaitu: (1) Standar Kompetensi dan (2) Kompetensi Dasar. Sedangkan dalam kurikulum 2013 terdiri dari Kompetensi Dasar dan Kompetensi Inti.

Tujuan pembelajaran dan dampaknya terhadap pembelajaran IPA SD

Tujuan pembelajaran IPA SD/MI yang disuratkan dalam latar belakang mata pelajaran IPA SD/MI menegaskan bahwa pembelajaran IPA bertujuan untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, bekerja, dan bersikap ilmiah melalui inkuiri ilmiah, dan mengkomunikasikannya sebagai aspek penting kecakapan hidup; untuk mengembangkan kemampuan menerapkan konsep IPA yang dimiliki siswa melalui pembelajaran Salingtemas, dalam bentuk kegiatan merancang dan membuat suatu karya.
           
Pelaksanaan pembelajaran IPA harus selalu menerapkan pesan dalam 2 tujuan pembelajaran, yaitu dilaksanakan dengan:
1.      Inkuiri ilmiah (penyelidikan)à memberi pengalaman belajar secara langsung melalui penggunaan dan pengembangan keterampilan proses dan silap ilmiah.
2.      Berorientasi pada pembelajaran SALINGTEMAS (Sains, Lingkungan, Teknologi, dan Masyarakat).

Pembelajaran IPA harus:
1)      tidak melalui pemindahan pengetahuan (istilah, fakta, konsep, prinsip, hukum/teori) dari guru kepada siswa,
2)      melalui inkuiri ilmiah (penyelidikan), dan melalui penerapan konsep-konsep IPA dalam bentuk merancang dan membuat suatu karyaàmemberi kebermaknaan hasil belajar bagi diri siwa dalam menjalani kehidupan.

Referensi
Djojosoediro, Wasih. Kurikulum IPA SD (KTSP).pdf
Muhtadi, Ali. Konsepsi Kurikulum.pdf